Oleh : Abu Ahmad
Sebenarnya pemilihan untuk mendapatkan istri yang baik tidaklah berarti terlepasnya tanggungjawab atasnya selepas perkawinan. Namun tanggungjawab yang lebih besar segera bermula setelah berumah-tangga. Di antara tanggungjawab tersebut adalah berikut:
1. Hendaknay seorang muslim harus berlaku baik terhadap istrinya dan keluarganya, dan memuliakan dalam
hubungan muamalah untuk membina jembatan saling mempercayai di antara kedunya, sebagaimana Rasulullah bersabda:
خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي
“Orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling baik perlakuan terhadap istrinya dan akulah orang yang paling baik perlakuan terhadap istri”. ( Tirmizi dari ‘Aisyah)
Dan Rasulullah saw bersabda:
أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم أخلاقا وألطفهم بأهله
“Orang-orang mukmin yang sempurna imannya ialah mereka yang baik akhlaqnya dan berlemah-lembut terhadap istri mereka”. (Tirmizi)
2. Hubungannya dengan istri tidak seharusnya terbatas kepada hubungan di tempat tidur dan melepaskan keinginan syahwat saja. Namun, hubungan antara keduanya itu harus merupakan hubungan yang dapat menjalin dan membanugn untuk saling memahami dalam pemikiran, kejiwaan dan kasih sayang.
Saling membaca, menunaikan sebahagian dari ibadah dan turut mengatur urusan rumah-tangga dan meluangkan waktu tertentu, untuk bergurau-senda dan bermanja.
Dalam urusan ibadah Allah SWT berfirman:
وَْأمُرْ َأهَْلكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْ َ طبِرْ عََليْهَا
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya…” (Toha:132)
Dan Allah Berfirman:
وَكَا َ ن يَأْمُرُ َأهَْلهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَا َ ن عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِا
“Dan ia (Nabi Ismail a.s) memerintahkan ahlinya mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan ia adalah seorang yang diredai di sisi Tuhannya”. (Maryam: 55)
Dalam hal bermesra dengan istri, Rasulullah saw pernah berlomba kejar dengan Aisyah r.a.
Manakala dalam hal membantu urusan rumah-tangga, beliau melakukan banyak pekerjaan rumah tangga, di antaranya beliau menjahit serta memperbaiki kasutnya sendiri.
3. Selain dari perkara-perkara di atas, seluruh hubungannya dengan istrinya harus tidak keluar dari batas-batas syariat, tidak menjatuhkan nama baik Islam dan tidak tercebur ke dalam hal-hal
yang haram, karena sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
ما من أحد يطيع امرأة في ما ﺗﻬوي إلا كبه الله في النار
“Tidak ada seorang yang tunduk menurut kehendak wanita melainkan Allah mencampakkannya ke dalam neraka”.
Rasulullah juga bersabda:
لا يلقي الله أحد بذنب أعظم من جهالة أهله
“Seorang itu tidak menemui Allah dengan membawa dosa yang sangat besar dari kejahilan istrinya”
Nabi juga bersabda:
تعس عبد الزوجة
“Celakalah orang yang menjadi hamba istrinya”.
4. Tanggungjawab Bersama Dalam Mendidik Anak-anak.
Sebenarnya kejayaan dalam perkawinan dengan memilih istri yang salihah dan membentuk pasangan suami-istri yang serasi dengan acuan Islam merupakan saham yang sangat besar dalam membantu melaksanakan pendidikan Islam kepada anak-anak. Sebaliknya kegagalan perkawinan dan salah memilih calon istri adalah punca pada
keburukan dan keruntuhan atas bangunan rumah-tangga seluruhnya.
Apapun pertentangan, perselisihan, pertikaian dan lain sebagainya yang berlaku dalam kehidupan suami istri akan memberi kesan secara langsung ke dalam pendidikan anak-anak dan jiwa
Bahwa dampak dari sebahagian dari sifat-sifat kekusutan jiwa dan penyimpangan akan diwarisi pula oleh anak-anak. Oleh yang demikian anasir yang pertama yang dapat menjamin terlaksananya pendidikan secara Islam kepada kanak-kanak ialah melaksanakan pernikahan menurut dan sesuai yang dianjurkan oleh Islam.
Pada hakikatnya hasil yang diharapkan dari sebuah rumah-tangga Islam adalah melahirkan keturunan dan generasi yang salih seperti Allah Berfirman:
وَالَّذِينَ يَقُوُلو َ ن رَبَّنَا هَبْ َلنَا مِنْ َأزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرََّة َأعْيُنٍ وَاجْعَْلنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yang berdoa dengan berkata: Wahai Tuhan kami, berilah kami beroleh dari istri-istri dan keturunan kami: Perkara-perkara yang menyukakan hati melihatnya dan jadikanlah kami imam ikutan bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Furqan: 74)
Anak-anak itu dilahirkan dalam keadaan bersih (fitrah). Ia akan menjadi seorang yang salih bila mendapat pendidikan yang baik. Sebaliknya jika ia hidup dalam suasana keluarga yang menyimpang dan menyeleweng, maka ia juga akan turut menyimpang dan menyeleweng. sebagaimana sabda Nabi saw:
كل مولود يولد الولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan bersih (fitrahnya) maka kedua ibu bapanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Oleh karena itu, Islam memandang berat dalam urusan mendidik anak-anak serta berusaha supaya mencari sebab-sebab, norma-norma serta suasana yang baik untuk menjamin terlaksananya tarbiah yang baik. Rasulullah
bersabda:
لأن يؤذب الرجل ولده خير له من أن يتصدق به بصاع
“Seorang yang mendidik anaknya (dengan baik) adalah lebih baik dari bersedekah dengan secupak”. (Tirmizi).
Rasulullah juga bersabda:
ما نحل والد ولد من نحل أفضل من أدب حسن
“Tidak ada satu pemberian bapa terhadap anak-anak yang lebih dari adab yang mulia”.
Sabda beliau lagi:
أكرموا أولادكم وأحسنوا أدﺑﻬم
“Berlaku pemurahlah kepada anak-anakmu dan bentuklah mereka dengan akhlaq yang mulia”. (Ibn Majah daripada Ibn ‘Abbas)
Rasulullah saw juga bersabda:
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له
“Apabila mati seorang anak Adam, terputuslah segala amalan (dari dia) kecuali tiga (kebaikan): Sedekah jariah (yang ikhlas), ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang salih yang mendoakan (kebaikan) untuknya”. (Muslim daripada Abu Hurairah)
Sumber: al-ikhwan.net
0 komentar:
Posting Komentar