Rabu, 28 Oktober 2009

Antara Poligami dan Pelacuran

Oleh : Darul Haq

Akhir-akhir ini di stasiun TV swasta santer diberitakan tentang poligami, yaitu suatu tindakan menikah lebih dari satu istri. Tepatnya yang menjadi perbincangan yaitu Klub Poligami Global Ikhwan Indonesia sebagai kelompok yang mayoritas beranggotakan pelaku poligami.Tapi anehnya yang diberitakan itu malah menimbulkan opini public yang mengarah kepada kontroversi, sampai-sampai pejabat menteri ikut bersuara dan mengatakan bahwa klub itu terjadi penyimpangan, menyalahi aturan, dll.

Kenapa seolah-olah media ini semakin membuat keruh suasana, dan menjadi penghasud. Sedikit sekali media menjelaskan tentang bagaimana itu poligami yang benar, fadillah berpoligami. Yang dijelaskan malah lebih kepada kontranya, tidak memandang dalam hal segi kebaikan serta yang selalu diwawancara malah tokoh-tokoh yang memang anti poligami. Media juga selalu mengangkat tentang “kenegatifan” berpoligami bukan kepada objek berita yang menjadi kontroversi yaitu klub global ikhwan.

Bahkan di situs berita terkemuka menyebutkan bahwa orang yang berpoligami berpotensi menyebarkan penyakit kelamin karena berganti-ganti pasangan. Ini salah besar!! Meski seorang suami beristri 4, tapi istrinya tetap itu saja dan yang menggaulinyapun hanya oleh suaminya saja. Jika mereka semua bersih ya tidak akan ada penyakit kelamin. Sebaliknya bagi yang menempuh monogami tapi selingkuh dengan berganti-ganti pasangan atau ke tempat pelacuran yang dimana pelacur itu juga sudah banyak berganti lelaki, justru mereka lebih besar potensi kena penyakit kelamin.

Ya ikhwah…Segala tingkah laku umat muslim harus diniatkan hanya untuk ibadah, begitu halnya pada poligami. Poligami itu sebagai ibadah dan juga bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam sebuah keluarga, serta pembagian tugas dalam sebuah keluarga. Bukan semata-mata memenuhi keperluan seks.

Sungguh aneh, seolah-olah suami tidak boleh berpoligami, sementara pemerintah malah melindungi dan melegalkan tempat perzinahan seperti Doly. Anda (istri) mungkin tidak tahu kalau ternyata selama ini suami anda sering ke tempat pelacuran, berzina tanpa sepengetahuan anda. Sedang anda juga wajib melayani sang suami, tapi sayangnya suami anda membohongi anda selama ini.

Coba perhatikan, poligami halal sedangkan zina haram. Anehnya poligami selalu jadi kontroversi sedangkan zina dibiarkan tumbuh. Lihat saja diundang-undang Negara ini, pelaku dibebaskan dari tuduhan pemerkosaan kalau keduanya suka sama suka, pemerintah tidak memperhatikan kesalahan berzinahnya. MasyaAllah…

Inikah yang diinginkan pemerintah di dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi, lebih mementingkan pelacuran sehingga wanita-wanita pelacur mempunyai pekerjaan dan diberi gelar “Pekerja Seks Komersil” yang secara otomatis mengurangi angka pengangguran? atau membantu perusahaan kondom menjual produknya kepada masyarakat yang suka berzina?

Bukankah lebih baik jika para pelacur itu menjadi istri ke 2 atau ke 3 yang sah dari seorang suami, ketimbang harus melacur melayani 2-3 pria setiap malam dengan resiko berbagai penyakit kelamin dan AIDS serta anaknya lahir tanpa bapak”. Bukankah islam menjelaskan bahwa dengan menjadi istri ke 2 adalah tetap statusnya sebagainya istri bukan selir, diberi perlakuan dan hak yang sama, diberikan kasih sayang dan diberi hak waris dari suaminya. Apakah berpoligami membuat wanita dihinakan? Disinilah Islam menghargai hak-hak wanita, menjunjung tinggi hak wanita. Lihat sejarah para tokoh zaman Yunani kuno, ketika mempunyai puluhan selir, seperti apakah perlakuan kepada selirnya ketika haidh, dianggap kotor dan layak ditempatkan ditempat yang kotor.

Pada poligami, suami bertanggung-jawab memenuhi nafkah lahir dan batin serta melindungi semua istrinya, dan juga anak-anaknya. Sedangkan pada perselingkuhan mau pun pelacuran, pada dasarnya terjadi hubungan seks antara satu pria dengan banyak wanita seperti pada poligami. Tapi pada perselingkuhan dan pelacuran, tidak ada tanggung-jawab bagi pria mau pun wanita. Sang pria tidak harus memberi nafkah lahir dan batin, kecuali hanya pada saat kesenangan sesaat. Lihat perbedaan yang jelas ini, tentu dengan pelacuran wanita dihinakan, tidak punya hak sama sekali, melainkan hanya sebagai objek kesenangan lelaki semata dibanding dengan yang berpoligami dimana istri mempunyai hak sebagai istri.

Dengan begini apakah berpoligami itu menyimpang? Mana salahnya!? Apa yang menjadi keraguan dengan aturan Allah?.ini lho Allah, Tuhan kita yang memberikan aturan, apabila anda meragukan aturan Allah berarti anda meragukan akan eksistensi Allah itu sendiri. Maha Suci Allah dari apa yang saya katakan.

Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS An-Nisa: 3)

Banyak di antara manusia ada yang ingin mendapat keturunan tetapi sayang isterinya mandul atau sakit sehingga tidak mempunyai anak. Bukankah suatu kehormatan bagi si isteri dan keutamaan bagi si suami kalau dia kawin lagi dengan seorang wanita tanpa mencerai isteri pertama dengan memenuhi hak-haknya. Sementara ada juga laki-laki yang mempunyai nafsu seks yang luarbiasa, tetapi isterinya hanya dingin saja atau sakit, atau masa haidhnya (atau kehamilan “ penulis) itu terlalu panjang dan sebagainya, sedang si laki-laki tidak dapat menahan nafsunya lebih banyak. Apakah dalam situasi seperti itu si laki-laki tersebut tidak boleh kawin dengan perempuan lain yang halal sebagai tempat mencari kawan tidur” Dan ada kalanya jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki, lebih-lebih karena akibat dari peperangan yang hanya diikuti oleh laki-laki dan pemuda-pemuda. Maka di sini poligami merupakan suatu kemaslahatan buat masyarakat dan perempuan itu sendiri, sehingga dengan demikian mereka akan merupakan manusia yang bergharizah yang tidak hidup sepanjang umur berdiam di rumah, tidak kawin dan tidak dapat melaksanakan hidup berumahtangga yang di dalamnya terdapat suatu ketenteraman, kecintaan, perlindungan, nikmatnya sebagai ibu dan keibuan sesuai pula dengan panggilan fitrah.

Ada tiga kemungkinan yang bakal terjadi sebagai akibat banyaknya laki-laki yang mampu kawin, yaitu:

1. Mungkin orang-orang perempuan itu akan hidup sepanjang umur dalam kepahitan hidup.

2. Mungkin mereka akan melepaskan kendalinya dengan menggunakan obat-obat dan alat-alat kontrasepsi untuk dapat bermain-main dengan laki-laki yang haram.

3. Atau mungkin mereka mau dikawini oleh laki-laki yang sudah beristeri yang kiranya mampu memberi nafkah dan dapat bergaul dengan baik.

Tidak diragukan lagi, bahwa kemungkinan ketiga adalah satu-satunya jalan yang paling bijaksana dan obat mujarrab. Dan inilah hukum yang dipakai oleh Islam.

Siapakah hukumnya yang lebih baik selain hukum Allah untuk orang-orang yang mau beriman” (QS. Al-Maidah : 50)

Ironis memang, masyarakat yang mengaku muslim tapi ideologynya tidak muslim, masalah poligami saja sudah banyak dibantah, padahal di dalam Al-Qur’an diatur dan dijelaskan. Ini baru masalah poligami, apalagi kalau membahas sebuah aturan Islam yang kaffah seperti penerapan qisas, rajam, bab-bab hudud dan jinayat? Mungkin masyarakat langsung mengecap kepada orang yang berjuang menegakkan Dien Allah itu sebagai kaum radikal, fundamentalis. Semoga Allah memberikan pertolongan dan kedudukan yang kokoh bagi hambaNya yang istiqomah menolong Dien Allah.

Hai orang-orang yang beriman apabila kamu Menolong Agama Allah niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad : 7)


Selengkapnya...

Rabu, 16 September 2009

Mus’ab bin Umair - Duta Islam Pertama

Oleh : Prince of Jihad


Mus’ab bin Umair adalah sahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam yang sangat berjasa dan menjadi teladan kepada umat Islam sepanjang zaman. Sebelum memeluk Islam, dia berperawakan lemah lembut, suka berpakaian kemas, mahal dan indah. Malah dia selalu bersaing dengan kawan-kawannya untuk berpakaian sedemikian. Keadaan dirinya yang mewah dan rupanya yang kacak menyebabkan Mus’ab menjadi kegilaan gadis di Makkah. Mereka sentiasa berangan-angan untuk menjadi isterinya.
Mus’ab sebenarnya adalah anak yang paling disayangi ibunya berbanding adik adiknya yang lain. Apa sahaja permintaannya tidak pernah ditolak. Oleh itu tidaklah mengherankan apabila ibunya begitu marah selepas mendapat tahu Mus’ab telah menganut Islam. Ibunya telah mengurung dan menyiksa Mus’ab selama beberapa hari dengan harapan dia akan meninggalkan Islam. Tindakan ibunya tidak sedikit pun menimbulkan rasa takut pada Mus’ab, sebaliknya dia tidak jemu-jemu membujuk ibunya memeluk Islam kerana sayang pada ibunya. Mus’ab membuat pelbagai usaha tetapi semua tindakannya hanya menambahkan lagi kemarahan dan kebencian ibunya.

Pada suatu hari Mus’ab melihat ibunya dalam keadaan pucat lesu. Dia pun menanyakan sebabnya. Kata ibunya, dia telah berniat di hadapan berhala bahwa dia tidak akan makan dan minum sehingga Mus’ab meninggalkan Islamnya. Mendengar jawaban ibunya, Mus’ab berkata kepada ibunya: “Andaikata ibu mempunyai seratus nyawa sekalipun, dan nyawa ibu keluar satu demi satu, nescaya saya tetap tidak akan meninggalkan Islam sama sekali”.

Mendengar jawaban Mus’ab yang begitu tegas dan berani, ibunya pun mengusir Mus’ab dari rumah, maka Tinggallah Mus’ab bersama-sama Rasulullah dan sahabat-sahabat yang sangat daif ketika itu. Untuk meneruskan kehidupannya, Mus’ab berusaha sendiri bekerja mencari nafkah dengan menjual kayu api. Apabila sampai berita ini kepada ibunya, dia merasa amat marah dan malu kerana kebangsawanannya telah dicemari oleh sikap Mus’ab. Adik-beradik Mus’ab juga sering menemui dan memujuknya supaya kembali menyembah berhala. Tetapi Mus’ab tetap mempertahankan keimanannya.

Sewaktu ancaman dan seksaan kaum Quraisy ke atas kaum Muslim menjadi-jadi, Rasulullah telah mengarahkan supaya sebahagian sahabat berhijrah ke Habysah. Mus’ab turut bersama-sama rombongan tersebut. Sekembalinya dari Habsyah, keadaan beliau semakin berubah. Kurus kering dan berpakaian compang-camping lantaran penyiksaan Quraisy ke atasnya. Keadaan itu menimbulkan rasa sedih di dalam hati Rasulullah. Kata-kata Rasulullah mengenai Mus’ab sering disebut-sebut oleh sahabat:, “Segala puji bagi bagi Allah yang telah menukar dunia dengan penduduknya. Sesungguhnya dahulu saya melihat Mus’ab seorang pemuda yang hidup mewah ditengah-tengah ayah bondanya yang kaya raya. Kemudian dia meninggalkan itu semua kerana cinta kepada Allah dan Rasul-Nya”.

Apabila ibu Mus’ab mendapat tahu mengenai kepulangannya, dia memujuk anaknya supaya kembali kepada berhala. Dia mengutuskan adik Mus’ab yang bernama Al-Rum untuk memujuknya. Namun Mus’ab tetap dengan pendiriannya. Bagaimanapun tanpa pengetahuan ibunya, Al-Rum juga sudah memeluk Islam tetapi dia merahsiakannya. Mus’ab, adalah orang pertama diutus oleh Nabi ke Madinah untuk berdakwah. Hasil dakwahnya, pada tahun tersebut 12 orang Madinah Masuk Islam dan bertemu dengan Nabi di Musim Haji untuk mengikat janji setia dengan Nabi (Perjanjian A’qabah 1). Pada tahun berikutnya 70 lagi orang Madinah masuk Islam dan datang ke Mekah di musim Haji untuk berjanji setia dengan Nabi (Perjanjian A’qabah 2). Kejayaan cemerlangnya inilah, pembuka jalan kepada Nabi dan para sahabat untuk berhijrah ke Madinah.

Sewaktu terjadi peperangan Uhud, Mus’ab ditugaskan memegang bendera-bendera Islam. Peringkat kedua peperangan telah menyebabkan kekalahan di pihak tentera Muslimin. Tetapi Mus’ab tetap tidak berganjak dari tempatnya dan menyeru: Muhammad adalah Rasul, dan sebelumnya telah banyak diutuskan rasul.

Ketika itu, seorang tentera berkuda Quraisy, Ibn Qamiah menyerbu ke arah Mus’ab dan menetak tangan kanannya yang memegang bendera Islam. Mus’ab menyambut bendera itu dengan tangan kirinya sambil mengulang-ulang laungan tadi. Laungan itu menyebabkan Ibn Qamiah bertambah marah dan menetak tangan kirinya pula. Mus’ab terus menyambut dan memeluk bendera itu dengan kedua-dua lengannya yang kudung. Akhirnya Ibn Qamiah menikamnya dengan tombak. Maka gugurlah Mus’ab sebagai syuhada’ Uhud.

Al-Rum, Amir ibn Rabiah dan Suwaibit ibn Sad telah berusaha mendapatkan bendera tersebut daripada jatuh ke bumi. Al- Rum telah berjaya merebutnya dan menyaksikan sendiri syahidnya Mus’ab. Al- Rum tidak dapat lagi menahan kesedihan melihat kesyahidan abangnya. Tangisannya memenuhi sekitar bukit Uhud. Ketika hendak dikafankan, tidak ada kain yang mencukupi untuk menutup jenazahnya. Keadaan itu menyebabkan Rasulullah tidak dapat menahan kesedihan hingga bercucuran air mata baginda. Keadaannya digambarkan dengan kata-kata yang sangat masyhur:

"Apabila ditarik kainnya ke atas, bahagian kakinya terbuka. Apabila ditarik kainnya ke bawah, kepalanya terbuka. Akhirnya, kain itu digunakan untuk menutup bahagian kepalanya dan kakinya ditutup dengan daun-daun kayu."

Demikian kisah kekuatan peribadi seorang hamba Allah dalam mempertahankankebenaran dan kesucian Islam. Beliau jugalah merupakan pemuda dakwah yangpertama mengetuk setiap pintu rumah di Madinah sebelum berlakunya hijrah.

Kisahnya mempamerkan usaha dan pengorbanannya yang tinggi untuk menegakkan kebenaran. Semua itu adalah hasil proses tarbiyah yang dilaksanakan oleh Rasulullah.

Mus’ab telah menjadi saksi kepada kita akan ketegasan mempertahankan aqidah yang tidak berbelah bagi terhadap Islam sekalipun teruji antara kasih sayang kepada ibunya dengan keimanan. Mus’ab lebih mengutamakan kehidupan Islam yang serba sederhana berbanding darjat dan kehidupan serba mewah. Dia telah menghabiskan umurnya untuk Islam, meninggalkan kehebatan dunia, berhijrah zahir dan batin untuk mengambil kehebatan ukhrawi yang sejati sebagai bekalan akhirat.
sumber: Arrahmah.com



Selengkapnya...

Kamis, 03 September 2009

Tanggungjawab Selepas Berumah-tangga

Oleh : Abu Ahmad

Sebenarnya pemilihan untuk mendapatkan istri yang baik tidaklah berarti terlepasnya tanggungjawab atasnya selepas perkawinan. Namun tanggungjawab yang lebih besar segera bermula setelah berumah-tangga. Di antara tanggungjawab tersebut adalah berikut:

1. Hendaknay seorang muslim harus berlaku baik terhadap istrinya dan keluarganya, dan memuliakan dalam
hubungan muamalah untuk membina jembatan saling mempercayai di antara kedunya, sebagaimana Rasulullah bersabda:

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي

“Orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling baik perlakuan terhadap istrinya dan akulah orang yang paling baik perlakuan terhadap istri”. ( Tirmizi dari ‘Aisyah)

Dan Rasulullah saw bersabda:

أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم أخلاقا وألطفهم بأهله

“Orang-orang mukmin yang sempurna imannya ialah mereka yang baik akhlaqnya dan berlemah-lembut terhadap istri mereka”. (Tirmizi)

2. Hubungannya dengan istri tidak seharusnya terbatas kepada hubungan di tempat tidur dan melepaskan keinginan syahwat saja. Namun, hubungan antara keduanya itu harus merupakan hubungan yang dapat menjalin dan membanugn untuk saling memahami dalam pemikiran, kejiwaan dan kasih sayang.

Saling membaca, menunaikan sebahagian dari ibadah dan turut mengatur urusan rumah-tangga dan meluangkan waktu tertentu, untuk bergurau-senda dan bermanja.

Dalam urusan ibadah Allah SWT berfirman:

وَْأمُرْ َأهَْلكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْ َ طبِرْ عََليْهَا

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya…” (Toha:132)

Dan Allah Berfirman:

وَكَا َ ن يَأْمُرُ َأهَْلهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَا َ ن عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِا

“Dan ia (Nabi Ismail a.s) memerintahkan ahlinya mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan ia adalah seorang yang diredai di sisi Tuhannya”. (Maryam: 55)

Dalam hal bermesra dengan istri, Rasulullah saw pernah berlomba kejar dengan Aisyah r.a.

Manakala dalam hal membantu urusan rumah-tangga, beliau melakukan banyak pekerjaan rumah tangga, di antaranya beliau menjahit serta memperbaiki kasutnya sendiri.

3. Selain dari perkara-perkara di atas, seluruh hubungannya dengan istrinya harus tidak keluar dari batas-batas syariat, tidak menjatuhkan nama baik Islam dan tidak tercebur ke dalam hal-hal
yang haram, karena sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:

ما من أحد يطيع امرأة في ما ﺗﻬوي إلا كبه الله في النار

“Tidak ada seorang yang tunduk menurut kehendak wanita melainkan Allah mencampakkannya ke dalam neraka”.

Rasulullah juga bersabda:

لا يلقي الله أحد بذنب أعظم من جهالة أهله

“Seorang itu tidak menemui Allah dengan membawa dosa yang sangat besar dari kejahilan istrinya”

Nabi juga bersabda:

تعس عبد الزوجة

“Celakalah orang yang menjadi hamba istrinya”.

4. Tanggungjawab Bersama Dalam Mendidik Anak-anak.

Sebenarnya kejayaan dalam perkawinan dengan memilih istri yang salihah dan membentuk pasangan suami-istri yang serasi dengan acuan Islam merupakan saham yang sangat besar dalam membantu melaksanakan pendidikan Islam kepada anak-anak. Sebaliknya kegagalan perkawinan dan salah memilih calon istri adalah punca pada
keburukan dan keruntuhan atas bangunan rumah-tangga seluruhnya.

Apapun pertentangan, perselisihan, pertikaian dan lain sebagainya yang berlaku dalam kehidupan suami istri akan memberi kesan secara langsung ke dalam pendidikan anak-anak dan jiwa

Bahwa dampak dari sebahagian dari sifat-sifat kekusutan jiwa dan penyimpangan akan diwarisi pula oleh anak-anak. Oleh yang demikian anasir yang pertama yang dapat menjamin terlaksananya pendidikan secara Islam kepada kanak-kanak ialah melaksanakan pernikahan menurut dan sesuai yang dianjurkan oleh Islam.

Pada hakikatnya hasil yang diharapkan dari sebuah rumah-tangga Islam adalah melahirkan keturunan dan generasi yang salih seperti Allah Berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُوُلو َ ن رَبَّنَا هَبْ َلنَا مِنْ َأزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرََّة َأعْيُنٍ وَاجْعَْلنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yang berdoa dengan berkata: Wahai Tuhan kami, berilah kami beroleh dari istri-istri dan keturunan kami: Perkara-perkara yang menyukakan hati melihatnya dan jadikanlah kami imam ikutan bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Furqan: 74)

Anak-anak itu dilahirkan dalam keadaan bersih (fitrah). Ia akan menjadi seorang yang salih bila mendapat pendidikan yang baik. Sebaliknya jika ia hidup dalam suasana keluarga yang menyimpang dan menyeleweng, maka ia juga akan turut menyimpang dan menyeleweng. sebagaimana sabda Nabi saw:

كل مولود يولد الولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan bersih (fitrahnya) maka kedua ibu bapanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Oleh karena itu, Islam memandang berat dalam urusan mendidik anak-anak serta berusaha supaya mencari sebab-sebab, norma-norma serta suasana yang baik untuk menjamin terlaksananya tarbiah yang baik. Rasulullah
bersabda:

لأن يؤذب الرجل ولده خير له من أن يتصدق به بصاع

“Seorang yang mendidik anaknya (dengan baik) adalah lebih baik dari bersedekah dengan secupak”. (Tirmizi).

Rasulullah juga bersabda:

ما نحل والد ولد من نحل أفضل من أدب حسن

“Tidak ada satu pemberian bapa terhadap anak-anak yang lebih dari adab yang mulia”.

Sabda beliau lagi:

أكرموا أولادكم وأحسنوا أدﺑﻬم

“Berlaku pemurahlah kepada anak-anakmu dan bentuklah mereka dengan akhlaq yang mulia”. (Ibn Majah daripada Ibn ‘Abbas)

Rasulullah saw juga bersabda:

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له

“Apabila mati seorang anak Adam, terputuslah segala amalan (dari dia) kecuali tiga (kebaikan): Sedekah jariah (yang ikhlas), ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang salih yang mendoakan (kebaikan) untuknya”. (Muslim daripada Abu Hurairah)




Sumber: al-ikhwan.net Selengkapnya...

Minggu, 16 Agustus 2009

Wanita Yg Mendapat Pujian Dan Wanita Dilakanat Allah

Oleh Prince of Jihad, Kamis 25 Juni 2009,

Sejarah telah mencatat beberapa nama wanita terpandang yang di antara mereka ada yang dimuliakan Allah dengan surga, dan di antara mereka ada pula yang dihinakan Allah dengan neraka. Karena keterbatasan tempat, tidak semua figur bisa dihadirkan saat ini, namun mudah-mudahan apa yang sedikit ini bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita.


Wanita Yang Beriman

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Seutama-utama wanita ahli surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim.” (HR. Ahmad)

1. Khadijah binti Khuwailid

Dia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terhormat sehingga mendapat tempaan akhlak yang mulia, sifat yang tegas, penalaran yang tinggi, dan mampu menghindari hal-hal yang tidak terpuji sehingga kaumnya pada masa jahiliyah menyebutnya dengan ath thahirah (wanita yang suci).

Dia merupakan orang pertama yang menyambut seruan iman yang dibawa Muhammad tanpa banyak membantah dan berdebat, bahkan ia tetap membenarkan, menghibur, dan membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat semua orang mendustakan dan mengucilkan beliau. Khadijah telah mengorbankan seluruh hidupnya, jiwa dan hartanya untuk kepentingan dakwah di jalan Allah. Ia rela melepaskan kedudukannya yang terhormat di kalangan bangsanya dan ikut merasakan embargo yang dikenakan pada keluarganya.

Pribadinya yang tenang membuatnya tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan mengikuti kebanyakan pendapat penduduk negerinya yang menganggap Muhammad sebagai orang yang telah merusak tatanan dan tradisi luhur bangsanya. Karena keteguhan hati dan keistiqomahannya dalam beriman inilah Allah berkenan menitip salamNya lewat Jibril untuk Khadijah dan menyiapkan sebuah rumah baginya di surga.

Tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata:
Jibril datang kepada Nabi kemudian berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Maka jika ia telah tiba, sampaikan salam untuknya dari Rabbnya dan dari aku, dan sampaikan kabar gembira untuknya dengan sebuah rumah dari mutiara di surga, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak pula ada kepayahan.” (HR. Al-Bukhari).

Besarnya keimanan Khadijah pada risalah nubuwah, dan kemuliaan akhlaknya sangat membekas di hati Rasulullah sehingga beliau selalu menyebut-nyebut kebaikannya walaupun Khadijah telah wafat. Diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah hampir tidak pernah keluar dari rumah sehingga beliau menyebut-nyebut kebaikan tentang Khadijah dan memuji-mujinya setiap hari sehingga aku menjadi cemburu maka aku berkata: Bukankah ia seorang wanita tua yang Allah telah meng-gantikannya dengan yang lebih baik untuk engkau? Maka beliau marah sampai berkerut dahinya kemudian bersabda: Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya. Sungguh ia telah beriman di saat manusia mendustakanku, dan menolongku dengan harta di saat manusia menjauhiku, dan dengannya Allah mengaruniakan anak padaku dan tidak dengan wanita (istri) yang lain. Aisyah berkata: Maka aku berjanji untuk tidak menjelek-jelekkannya selama-lamanya.”

2. Fatimah

Dia adalah belahan jiwa Rasulullah, putri wanita terpandang dan mantap agamanya, istri dari laki-laki ahli surga yaitu Ali bin Abi Thalib.
Dalam shahih Muslim menurut syarah An Nawawi Nabi bersabda: “Fathimah merupakan belahan diriku. Siapa yang menyakitinya, berarti menyakitiku.”

Dia rela hidup dalam kefakiran untuk mengecap manisnya iman bersama ayah dan suami tercinta. Dia korbankan segala apa yang dia miliki demi membantu menegakkan agama suami.

Fathimah adalah wanita yang penyabar, taat beragama, baik perangainya, cepat puas dan suka bersyukur.

3. Maryam binti Imran

Beliau merupakan figur wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan taat beribadah kepada Rabbnya. Beliau rela mengorbankan masa remajanya untuk bermunajat mendekatkan diri pada Allah, sehingga Dia memberinya hadiah istimewa berupa kelahiran seorang Nabi dari rahimnya tanpa bapak.

4. Asiyah binti Muzahim

Beliau adalah istri dari seorang penguasa yang lalim yaitu Fir’aun laknatullah ‘alaih. Akibat dari keimanan Asiyah kepada kerasulan Musa, ia harus rela menerima siksaan pedih dari suaminya. Betapapun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami ternyata di hatinya masih tersedia tempat tertinggi yang ia isi dengan cinta pada Allah dan RasulNya. Surga menjadi tujuan akhirnya sehingga kesulitan dan kepedihan yang ia rasakan di dunia sebagai akibat meninggalkan kemewahan hidup, budaya dan tradisi leluhur yang menyelisihi syariat Allah ia telan begitu saja bak pil kina demi kesenangan abadi. Akhirnya Asiyah meninggal dalam keadaan tersenyum dalam siksaan pengikut Fir’aun.

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu alaihi wasalam berkata:
“Fir’aun memukulkan kedua tangan dan kakinya (Asiyah) dalam keadaan terikat. Maka ketika mereka (Fir’aun dan pengikutnya) meninggalkan Asiyah, malaikat menaunginya lalu ia berkata: Ya Rabb bangunkan sebuah rumah bagiku di sisimu dalam surga. Maka Allah perlihatkan rumah yang telah disediakan untuknya di surga sebelum meninggal.”

Wanita yang durhaka

1. Istri Nabi Nuh
2. Istri Nabi Luth

Mereka merupakan figur dua orang istri dari para kekasih Allah yang tidak sempat merasakan manisnya iman. Hatinya lebih condong kepada apa yang diikuti oleh orang banyak daripada kebenaran yang dibawa oleh suaminya. Mereka justru membela kepentingan kaumnya karena tidak ingin dimusuhi dan dibenci oleh orang-orang yang selama ini mencintai dan menghormati dirinya. Maka kesenangan sesaat ini Allah gantikan dengan kebinasaan yang didapat bersama kaumnya. Istri Nabi Nuh ikut tenggelam oleh banjir besar bersama kaumnya yang menyekutukan Allah dengan menyembah patung-patung orang shalih, sedangkan istri Nabi Luth ditelan bumi karena adzab Allah atas kaumnya yang melakukan liwath (homoseksual).

Semua cerita ini telah Allah rangkum dalam sebuah firmanNya yang indah dalam surat At-Tahrim ayat 10-12, yang artinya: “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah: dan dikatakan (kepada keduanya) : Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisimu dalam Surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim. Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehor-matannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”

Semoga kisah para wanita ini bisa menjadi pelajaran bagi para wanita zaman ini untuk berkaca diri, kira-kira saya termasuk golongan yang mana? Apakah golongan yang dicintai Allah atau yang dimurkaiNya?

Bagi wanita yang belum berumah tangga, saat ini merupakan kesempatan besar baginya untuk memperbanyak amalan shalih dan mendekatkan diri pada Allah, bukannya justru menghabiskan masa mudanya dengan hura-hura dan kegiatan lain yang tidak bermanfaat. Dan bagi mereka yang sudah berumah tangga, selain menjaga keistiqomahannya dalam berIslam dia juga diberi beban tambahan oleh Allah untuk membantu suami menjalankan agamanya. Istri yang demikian meru-pakan harta yang paling berharga.

Dari kisah mereka, kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa dalam keadaan bagaimanapun, hendaknya ketundukan kepada syariat Allah dan RasulNya harus tetap di atas segala-galanya. Asalkan berada di atas kebenaran, kita tidak perlu takut dibenci oleh masyrakat, sahabat, maupun orang yang paling istimewa di hati kita. Justru kewajiban kita adalah menunjukkan yang benar kepada mereka. Dengan begitu kita akan mendapatkan cinta sejati .. cinta Allah Rabbul ‘alamin.

Mudah-mudahan kita selalu diberi keistiqomahan untuk menapaki dan mengamalkan syariat yang haq (benar) walaupun kita seorang diri. Amin.

Maraji’:
1. Ahkamun Nisa’, Ibnul Jauzi.
2. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani.
3. Tuhfatul Ahwadzi, Al Mubarakfuri.
4. Wanita-wanita Shalihat Dalam Lintas Sejarah Islam, Muhyidin Abdul Hamid.

sumber: Arrahmah.com
Selengkapnya...

Sabtu, 15 Agustus 2009

20 Cara Membahagiakan Istri

Oleh Prince of Jihad pada Kamis 02 Juli 2009, 04:51 AM

Rumahku Surgaku. Itulah harapan sebuah pernikahan. Memang, tidak mudah untuk mewujudkan harapan tersebut, bisa-bisa rumahku menjadi nerakaku. Dibutuhkan kerjasama yang harmonis diantara suami dan istri ketika mengarungi bahtera pernikahan. Selain itu, dibutuhkan pemahaman mengenai cara memelihara pernikahan agar tetap harmonis dan tahan terhadap badai ujian. Berikut penjelasan praktis dan padat karya Syekh Umar Bakri Muhammad "Nasihat Indah Untuk Suami Istri" yang diterbitkan oleh Cakrawala Publishing.

Rasulullah SAW bersabda :

“ Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik (perlakuannya) terhadap istri-istrinya dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap istri-istriku.”

Rasullullah SAW juga bersabda :

“ Tidak ada yang memuliakan wanita dengan sejati kecuali laki-laki yang pemurah (dermawan) dan tak seorangpun yang menghina mereka (wanita) kecuali laki-laki yang kasar.”

Tugas-tugas seorang suami kepada istrinya :

1.Hendaklah Anda selalu memperlihatkanlah wajah yang menyenangkan ketika masuk ke rumah, ucapkan salam Islam “assalaamu’alaikum” dengan senyuman yang manis, raih tangannya dan peluklah istri Anda dengan mesra.

2.Ketika berbicara, untaikan kalimat yang manis serta memikat istri Anda. Usahakan istri Anda merasa benar-benar diperhatikan dan menjadikannya wanita paling khusus untuk Anda. Untaian kalimat yang disampaikan kepadanya hendaknya jelas (ulangi jika perlu) dan panggillah istri Anda dengan sebutan yang dia sukai seperti ; manisku, sayangku, cintaku dan lain sebagainya.

3.Meskipun Anda mempunyai beban kerja yang banyak, luangkanlah waktu untuk beramah tamah dan bercengkerama dengan istri Anda. Hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah SAW dimana beliau juga beramah tamah dan menghabiskan waktu bersama para istri beliau, meskipun pada saat itu beliau juga penuh dengan pekerjaan serta beban tanggung jawab yang sangat besar.

4.Mainkanlah suatu permainan ataupun selingan yang menggembirakan bersama istri Anda. Hal ini dinyatakan dalam suatu hadist bahwa Rasullah SAW bersabda :

“ Semua hal yang di dalamnya tidak menyebut nama Allah SWT, adalah suatu kesia-siaan, kecuali dalam empat hal : seorang laki-laki yang sedang bermain dengan istrinya, melatih kuda, membidik di antara dua sasaran, serta mengajarkan berenang.”

5.Membantu pekerjaan sehari-hari rumah tangga. Usahakan Anda membantu dan menolong istri Anda dengan tugas-tugas keseharian rumah tangga Anda, seperti membeli makanan, mempersiapkan makanan, membersihkan serta mengatur rumah, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini akan membawa kebahagiaan tersendiri pada diri istri Anda dan tentu saja akan semakin memperkuat cinta Anda dan hubungan Anda bersama sang Istri.

6.Usahakan musyawarah selalu menghiasi rumah tangga Anda. Bermusyawarahlah dengan istri Anda, dalam setiap permasalahan. Pendapat yang di sampaikan Ummu Salamah kepada Rasulullah SAW pada saat perjanjian Hudaibiyyah adalah suatu kejadian yang sangat terkenal. Hal ini merupakan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW untuk bermusyawarah dengan para istri dan para sahabat beliau.

7.Ketika Istri Anda sedang berkunjung ke tempat saudaranya, teman-temannya, serta orang-orang saleh, maka temanilah istri Anda.

8.Tata cara melakukan perjalanan dan meninggalkan istri di rumah. Jika Anda tidak bisa membawa serta istri Anda dalam perjalanan, maka ucapkanlah selamat tinggal dengan penuh rasa sayang, bekalilah istri Anda dengan persediaan kebutuhan sehari-hari dan uang secukupnya, mintalah istri Anda untuk mendo’akan Anda, sering-seringlah untuk menghubungi istri Anda. Jangan lupa untuk meminta pertolongan kepada orang yang Anda percayai untuk menjaga keluarga Anda selama Anda bepergian. Persingkat perjalanan Anda jika dirasa sudah tidak penting lagi dan pulanglah dengan membawa oleh-oleh. Hindari untuk pulang pada malam hari atau pada saat-saat yang tidak diharapkan.

9.Dukungan keuangan. Tumbuhkanlah sikap dermawan pada diri Anda (tidak pelit) dalam urusan pengeluaran rumah tangga Anda, tentunya harus sesuai dengan kemampuan keuangan Anda. Dukungan keuangan yang baik (tidak boros tentunya) akan sangat berguna untuk memelihara kestabilan perkawinan Anda.

10.Buatlah diri Anda agar selalu berbau harum dan perindah penampilan Anda . Allah SWT itu indah dan Dia menyukai keindahan. Maka selalu bersihlah Anda, rapi, dan pakailah parfum. Ibnu Abbas r.a. berkata :

“ saya menyukai keindahan diri saya sendiri untuk istri saya, seperti halnya saya menyukai keindahan istri saya untuk saya.”

11.Tentang hubungan seksual. Merupakan tugas dari suami untuk mencukupi kebutuhan serta hasrat seksual sang istri. Bisa jadi sekali waktu istri Anda sedang berada dalam masa yang sangat prima berkenaan dengan kesehatan fisik dan psikologisnya.

12.Penuh perhatian. Seorang suami muslim harus sangat perhatian dan penuh perasaan terhadap istrinya. Istri Anda pasti mengalami dan melewati bermacam-macam perubahan baik secara fisik dan psikologis. Pada saat-saat seperti itu, istri Anda sangat memerlukan suatu perlakuan yang mesra dan penuh perhatian, agar istri Anda bisa menghapus kesusahan dan kesedihan yang sedang dialaminya, serta menenangkan perasaannya yang mudah tersentuh.

13.Jagalah kerahasiaan perkawinan Anda. Diriwayatkan dalam sebuah hadist oleh Abu Sa’id Al-Khudry bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“ Sungguh di antara orang yang paling buruk di hadapan Allah SWT pada saat hari kebangkitan adalah laki-laki yang mendatangi istrinya untuk melakukan hubungan badan, dan dia membeberkan rahasia itu (tentang hubungan badan) kepada yang lain.”

14.Bekerja sama dalam melakukan ibadah kepada Allah SWT, sholat berjama’ah dan selalu tingkatkan aktifitas Anda dalam beribadah kepada Allah SWT, seperti bersedekah, dzikir (mengingat Allah SWT), dan sholat pada malam hari (qiyamul lail). Rasulullah SAW bersabda :

“ Semoga rahmat Allah SWT dilimpahkan kepada laki-laki yang bangun pada malam hari dan membangunkan istrinya untuk sholat bersamanya, dan jika dia menolak maka percikkan air ke wajahnya”.

15.Selalu menunjukkan rasa hormat kepada keluarga dan teman istri Anda.

16.Usahakan untuk mendidik istri Anda tentang islam dan berilah istri Anda nasehat-nasehat.

17.Cemburu yang sewajarnya.

18.Bersabar dan berlaku lembutlah kepada istri Anda. Kendalikan amarah Anda dan buatlah sang istri untuk menghilangkan keragu-raguannya terhadap Anda, dan nasehatilah dia ketika melakukan suatu kesalahan.

19.Jadilah pema’af dan tegurlah istri Anda dengan cara yang baik dan sampaikan pada saat yang benar-benar tepat.

20.Jadilah seorang suami muslim yang sejati, dan terapkan semua yang pernah dibaca dan dipahami tentang Islam, dengan arif dan bijaksana.

dikutip dari: Almuhajirun

sumber: Arrahmah.com

Selengkapnya...