Dakwah sering diidentikkan dengan mimbar, ceramah-ceramah di masjid dengan banyak mustami’, tabligh akbar dan sebagainya yang dimana dalam ceramah itu ada seorang kyai, ustadz, haji atau orang yang fasih akan bahasa arab yang menyampaikan ceramah tersebut. Seolah-olah dalam pandangan orang awam hanya mereka lah yang pantas untuk berdakwah karena mereka layak untuk itu. Anggapan ini justru menyempitkan makna dakwah itu sendiri, sehingga banyak muslim merasa tidak terbebani akan tugas dakwah ini, karena tugas dakwah adalah tugasnya kyai, ustadz atau syekh. Padahal dakwah adalah suatu kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada semua muslimin.
Allah berfirman:
”Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An-Nahl 16: 125).
Kita yang tingkatnya bukan seorang kyai, juga mesti berdakwah, entah itu dia seorang mahasiswa, dosen, pedagang atau lainnya, bahkan setiap muslim yang tahu satu ayat saja diperintahkan untuk disampaikan kepada orang lain. Adapun salah satu cara berdakwah yang dilakukan bagi kita yang hendak terjun ke medan dakwah yaitu dengan dakwah fardiyah. Dakwah fardiyah yaitu suatu dakwah antar individu atau tidak dilakukan dengan pendekatan publik seperti ceramah atau pengajian dengan banyak mustami’.
Dakwah Fardiyah dapat mengkayakan pelakunya dengan berbagai pengalaman dan sebagai latihan berdakwah di jalan Allah yang merupakan salah satu kewajiban utama. Selain itu dakwah Fardiyah dapat menciptakan hubungan dan ikatan langsung dengan mad’u (orang yang didakwahi), sementara dakwah Ammah tidak demikian seperti ceramah atau pengajian. Ketika kita menghadapi seorang yang hendak kita dakwahi, kita tidak mesti langsung membicarakan tentang masalah keimanan misalnya, namun sebaiknya kita mulai dengan pembicaraan ringan, ikuti dulu apa yang dibicarakan lawan bicara kita. Baru pada moment-moment tertentu kita bisa mengalihkan pembicaraan tentang masalah agama.
Dengan kita berhadapan pada seorang mad’u kita akan lebih tahu apa yang dibutuhkan mad’u serta tahu keadaan psikologis mad’u seperti apa, sehingga kita bisa mengetahui mana yang lebih tepat untuk disampaikan kepada mad’u. Ketika seorang mad’u bertanya atau meminta penjelasan, disanalah kita lebih terpacu untuk menggali tsaqofah islam lebih jauh. Banyak nilai lebih yang didapat dari metode dakwah fardiyah ini disamping kita sambil mengasah kemampuan berdakwah.
